search

Friday, June 3, 2016

Makhluk Budaya



MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BUDAYA

“ APRESIASI TERHADAP KEMANUSIAAN DAN KEBUDAYAAN”

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BUDAYA


A.     APRESIASI TERHADAP KEMANUSIAAN DAN KEBUDAYAAN

1.      Manusia dan Kemanusiaan

Kemanusiaan berasal dari kata manusia. Manusia adalah homo, sedangkan kemanusiaan disebut dengan human. Kemanusiaan berarti hakikat dan sifat-sifat khas manusia sebagai makhluk yang tinggi harkat martabatnya. Kemanusiaan menggambarkan ungkapan akan hakikat dan sifat yang seharusnya dimiliki oleh manusia. Kemanusiaan merupakan prinsip atau nilai yang berisi keharusan atau tuntutan untuk berkesesuaian dengan hakikat dari manusia.
            Hakikat manusia Indonesia berdasarkan Pancasila disebut dengan hakikat kodrat monopluralis. Hakikat manusia terdiri atas:
a.       Monodualis susunan kodrat manusia yang terdiri dari aspek keragaan dan aspek kejiwaan.
b.      Monodualis sifat kodrat manusia terdiri atas segi individu dan segi social.
c.       Monodualis kedudukan kodrat meliputi segi keberadaan manusia sebagai makhluk yang berkepribadian mereka (berdiri sendiri) dan juga menunjukkan keterbatasannya sebagai makhluk Tuhan.
Manusia merupakan makhluk Tuhan yang paling sempurna karena dibekali akal budi. Manusia memiliki derajat dan harkat yang tinggi. Harkat adalah nilai, dan derajat adalah kedudukan.
Upaya meningkatkan harkat dan martabat dijunjung tinggi prinsip kemanusiaan yaitu adanya penghargaan dan penghormatan terhadap harkat dan martabat manusia yang luhur. Semua manusia luhur, karena itu manusia tidak dapat dibedakan perlakuannya hanya karena beda suku, ras, keyakinan, status sosial ekonomi, asal usul, dan lain-lain.
Ungkapan bahwa the mankind is one (kemanusiaan adalah satu) sehingga saling menghormati dan menghargai antarmanusia adalah sudah sewajarnya dengan berpijak pada prinsip kemanusiaan dan menjadikannya sebagai penggerak manusia untuk berperilaku yang seharusnya sebagai manusia.
Kemanusiaan yang adil dan beradab dalam sila ke-2 Pancasila berarti sikap dan perbuatan manusia yang sesuai dengan kodrat hakikat manusia yang sopan dan susila yang berdasarkan atas nilai dan norma moral. Kemanusiaan yang adil dan beradab adalah kesadaran akan sikap dan perbuatan yang didasarkan pada budi nurani manusia yang dihubungkan dengan norma-norma, baik terhadap diri sendiri, sesame manusia, dan lingkungan.

2.      Manusia dan Kebudayaan

Kebudayaan berasal dari bahas Sansekerta, yaitu buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal). Pendapat lain mengatakan bahwa budaya berasal dari kata budi dan daya. Budi merupakan unsur rohani, sedangkan daya adalah unsur jasmani manusia. Jadi, budaya merupakan hasil budi dan daya dari manusia.
Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Dalam bahasa Belanda cultuur berarti sama dengan culture. Culture atau cultuur berarti mengolah tanah atau bertani. Budaya berhubungan dengan kemampuan manusia dalam meneglola sumber-sumber kehidupan, dalam hal ini pertanian.
Kebudayaan menurut para ahli, yaitu sebagai berikut:
a.       Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain yang disebut superorganik.
b.      Andreas Epink menyatakan bahwa kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian, nilai, norma, ilmu pengetahuan, serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religious, dan lain-lain, ditambah lagi dengan segala pernytaan intelektual dan artistik yang menjadi cirri khas suatu masyarakat.
c.       Edward B. Taylor mengemukakan bahwa kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
d.      Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi mengatakan bahwa kebudayan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
e.       Koentjaraningrat berpendapat bahwa kebudayaan adalah keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakan dengan belajar beserta dari hasil budi pekertinya.
Kebudayaan sebagai suatu sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
J.J.Hoeningman membagi wujud kebudayaan menjadi tiga, yaitu:
a.       Gagasan (wujud ideal)
Adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide, gagasan, nilai, norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak, tidak dapat diraba atau disentuh.
b.      Aktivitas (tindakan)
Adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tetentu yang berdasarkan tata kelakuan.
c.       Artefak (karya)
Adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan.
Menurut Koenjtaraningrat, wujud kebudayaan dibagi menjadi tiga, yaitu:
a.       Suatu kompleks ide, gagasan, nilai, norma, dan sebagainya.
b.      Suatu kompleks aktivitas atau tindakan berpola dari manusia dalam   masyarakat.
c.       Suatu benda hasil karya manusia.
Unsur-unsur kebudayaan:
a.       Sistem peralatan dan perlengkapan hidup (teknologi)
b.      Sistem mata pencaharian hidup
c.       Sistem kemasyarakatan atau organisasi sosial
d.      Bahasa
e.       Kesenian
f.       Sistem pengetahuan
g.      Sistem religi
Kebudayaan tercipta karena interaksi antara manusia dengan segala isi alam raya ini. Karena manusia adalah pencipta kebudayaan maka manusia adalah makhluk berbudaya.

B.     ETIKA DAN ESTETIKA BERBUDAYA

1.      Etika Manusia dalam Berbudaya

Kata etika berasal dari bahasa Yunani, yaitu ethos. Secara etimologis etika adalah ajaran tentang baik-buruk, yang diterima umum trntang sikap, perbuatan, kewajiban, dan sebagainya. Etika bisa disamakan dengan moral (mores dalam bahasa Latin), akhlak, atau kesusilaan. Etika berkaitan dengan nilai dan nilai etika berkaitan dengan baik buruk perbuatan manusia.
Menurut Bertens ada 3 jenis makna etika, sebagai berikut:
a.       Etika dalam arti nilai-nilai atau norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau kelompok orang dalam mengatur tingkah laku.
b.      Etika dalam arti kumpulan asas atau nilai moral (kode etik).
c.       Etika dalam arti ilmu atau ajaran tentang yang baik dan yang buruk (filsafat moral).
Nilai etik adalah nilai tentang baik buruk kelakuan manusia yang diwujudkan dalam norma etik, norma moral, atau norma kesusilaan. Pendukung norma etik adalah nurani individu dan bukan manusia sebagai makhluk sosial atau sebagai anggota masyarakat yang terorganisir.
Norma etik ditujukan kepada manusia agar terbentuk kebaikan akhlak pribadi guna penyempurnaan manusia dan melarang manusia melakukan perbuatan jahat.
Asal atau sumber norma etik adalah dari diri manusia sendiri yang bersifat otonom dan tidak ditujukan kepada sikap lahir, tetapi ditujukan kepada sikap batin manusia. Daerah berlakunya norma etik relatif universal, meskipun tetap dipengaruhi oleh ideologi masyarakat pendukungnya.
Norma etik atau norma moral menjadi acuan manusia dalam berperilaku agar bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Budaya yang memiliki nilai etik adalah budaya yang mampu menjaga, mempertahankan, bahkan meningkatkan harkat dan martabat manusia.

2.      Estetika Manusia dalam Berbudaya

Estetika adalah teori keindahan atau seni. Makna keindahan antara lain sebagai berikut:
a.       Secara luas, keindahan mengandung ide kebaikan. Segala sesuatu yang baik, abstrak ataupun nyata, yang mengandung ide kebaikan adalah indah.
b.      Secara sempit, indah terbatas pada lingkup persepsi penglihatan (bentuk dan warna)
c.       Secara estetik murni, menyangkut pengalaman estetik seseorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang diresapinya melalui penglihatan, pendengaran, perabaan, dan perasaan yang semuanya dapat menimbulkan persepsi indah.
Sesuatu yang estetik berarti memenuhi unsur keindahan. Budaya yang estetik berarti budaya yang memiliki unsur keindahan. Nilai estetik sangat subjektif dan particular, maksudnya persepsi orang tentang keindahan itu berbeda-beda. Oleh karena itu, nilai estetik tidak dapat dipaksakan pada orang lain.
Estetika berbudaya menyiratkan perlunya manusia (individu atau masyarakat) untuk menghargai keindahan budaya yang dihasilkan manusia lain.

C.     MEMANUSIAKAN MANUSIA

Memanusiakan manusia berarti perilaku manusia untuk senantiasa menghargai dan menghormati harkat dan derajat manusia.
Memanusiakan manusia berarti pula perilaku memanusiawikan antarsesama. Memanusiakan manusia akan memberi keuntungan untuk diri sendiri dan orang lain. Keuntungan untuk diri sendiri yaitu menunjukkan harga diri dan nilai luhur pribadinya sebagai manusia. Sedangkan bagi orang lain akan memberikan rasa percaya, rasa hormat, kedamaian, dan kesejahteraan hidup.

D.    PROBLEMATIKA KEBUDAYAAN

Kebudayaan yang dimiliki sekelompok manusia membentuk ciri dan menjadi pembeda dengan kelompok lain. Dengan demikian kebudayaan merupakan identitas bagi persekutuan hidup manusia.

1.      Pewarisan Kebudayaan

Pewarisan kebudayaan adalah proses pemindahan, penerusan, pemilikan, dan pemakaian kebudayaan dari generasi secara berkesinambungan. Pewarisan budaya bersifat vertical artinya budaya diwariskan dari generasi terdahulu ke generasi berikutnya untuk digunakan, dan selanjutnya diteruskan ke generasi yang akan datang.
Pewarisan kebudayaan dilakukan melalui:
a.       Enkulturasi (pembudayaan)
Adalah proses mempelajari dan menyesuaikan pikiran dan sikap individu dengan system norma, adat, dan peraturan hidup dalam kebudayaannya. Proses enkulturasi dimulai sejak kanak-kanak
b.      Sosialisasi (proses pemasyarakatan)
Adalah individu menyesuaikan diri dengan individu lain dalam masyarakatnya.
            Masalah yang muncul dalam pewarisan budaya:
a.       Sesuai atau tidaknya budaya warisan tersebut dengan dinamika masyarakat saat sekarang.
b.      Penolakan generasi penerima terhadap warisan budaya tersebut
c.       Munculnya budaya baru yang tidak lagi sesuai dengan budaya warisan

2.      Perubahan Kebudayaan

Perubahan kebudayaan adalah perubahan yang terjadi sebagai akibat adanya ketidaksesuaian di antara unsur-unsur budaya yang saling berbeda sehingga terjadi keadaan yang fungsinya tidak serasi bagi kehidupan.
Masalah yang mungkin muncul karena adanya perubahan budaya:
a.       Merugikan manusia jika perubahan yang muncul bersifat regress (kemunduran) bukan progress (kemajuan)
b.      Perubahan bisa berdampak buruk atau menjadi bencana jika dilakukan melalui revolusi, berlangsung cepat, dan diluar kendali manusia.

3.      Penyebaran Kebudayaan

Penyebaran kebudayaan atau difusi adalah proses menyebarnya unsur-unsur kebudayaan dari suatu kelompok ke kelompok lain atau suatu masyarakat ke masyarakat lain. Dalil tentang radiasi budaya menurut Arnold Toynbee:
a.       Aspek atau unsur budaya selalu masuk tidak secara keseluruhan, melainkan individual. Contoh: penyerapan teknologi
b.      Kekuatan menembus suatu budaya berbanding terbalik dengan nilainya. Makin tinggi dan dalam aspek budayanya, makin sulit untuk diterima. Contoh: agama.
c.       Jika satu unsur budaya masuk maka akan menarik unsur budaya lain
d.      Aspek atau unsur budaya yang di tanah asalnya tidak berbahaya, bisa menjadi bahasa bagi masyarakat yang didatanginya. Contoh: nasionalisme.
Masalah yang mungkin muncul akibat adanya penyebarn budaya yaitu masyarakat penerima kebudayaan akn kehilangan nilai-nilai budaya local sebagai akibat kuatnya budaya asing yang masuk. Contoh: globalisasi.
Bentuk kontak antarkebudayaan antara lain:
a.       Difusi
b.      Akulturasi
Adalah kontak antarkebudayaan, namun masing-masing memperlihatkan unsur-unsur budayanya.
c.       Asimilasi
Adalah peleburan antarkebudayaan yang bertemu yang menghasilkan kebudayaan baru.